Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label astronomi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Mega Suar dari Bintang Mini

Suar surya atau solar flare dari matahari dapat melumpuhkan daya dan mempengaruhi komunikasi di Bumi. Namun, NASA telah melihat sesuatu yang jauh lebih berbahaya, yaitu suar surya yang terkuat, terpanas, dan paling lama yang pernah terlihat dari bintang katai merah yang dekat.



Ledakan awal dari serangkaian ledakan rekor ini sebesar 10.000 kali lebih kuat dari suar surya terbesar yang pernah tercatat.

"Kami dulu berpikir episode pembakaran utama dari katai merah berlangsung tidak lebih dari satu hari, tapi Swift mendeteksi setidaknya tujuh letusan kuat selama sekitar dua minggu," kata Stephen Drake, astrofisikawan di NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland, yang memberikan presentasi mengenai 'superflare' pada pertemuan di American Astronomical Society Divisi Energi Tinggi Astrofisika.

"Ini adalah peristiwa yang sangat kompleks."

Pada puncaknya, pembakaran mencapai suhu 200 juta Celsius, lebih dari 12 kali lebih panas dari pusat matahari.

Superflare atau Suar Super ini berasal dari salah satu bintang dalam sistem biner (bintang ganda) dekat, yang dikenal sebagai DG Canum Venaticorum, atau disingkat DG CVn, yang terletak sekitar 60 tahun cahaya jauhnya.


Kedua bintang adalah bintang katai merah dengan massa dan ukuran sekitar sepertiga dari matahari kita. Mereka mengorbit satu sama lain di sekitar tiga kali jarak Bumi dari matahari, dimana terlalu dekat untuk Swift untuk menentukan bintang mana yang memancarkan suar super.

"Sistem ini kurang dipelajari karena tidak ada dalam daftar pengamatan kita,  bintang yang mampu menghasilkan suar yang besar", kata Rachel Osten, astronom dari Space Telescope Science Institute di Baltimore dan deputi proyek untuk James Webb Space Telescope NASA, yang sekarang sedang dibangun.

"Kami tidak menyadari DG CVn memiliki kemampuan seperti ini."

Sebagian besar bintang yang berada di dalam radius 100 tahun cahaya dari tata surya kita adalah bintang paruh baya, seperti matahari.

Tapi seribu atau lebih bintang-bintang katai merah yang masih muda juga lahir melayang di wilayah ini, dan bintang-bintang ini memberikan astronom kesempatan terbaik untuk secara rinci mempelajari aktivitas energi tinggi yang biasanya menyertai bintang-bintang muda.

Para astronom memperkirakan DG CVn lahir sekitar 30 juta tahun yang lalu, yang membuatnya kurang dari 0,7 persen usia tata surya. Bintang ini mengeluarkan suar untuk alasan yang sama dengan matahari.

Sekitar daerah aktif dari atmosfer bintang, medan magnet menjadi bengkok dan terdistorsi. Ini memungkinkan medan untuk mengumpulkan energi. Akhirnya proses yang disebut rekoneksi magnetik mendistabilkan medan, sehingga menghasilkan pelepasan eksplosif dari energi yang kita lihat sebagai flare.


Ledakan memancarkan radiasi di seluruh spektrum elektromagnetik, dari gelombang radio, cahaya tampak, ultraviolet dan X-ray.

Pada pukul 05:07 EDT tanggal 23 April 2014, gelombang pasang sinar-X dari superflare DG CVn memicu semburan Notifikasi pada Telescope Swift (BAT).

"Sekitar tiga menit setelah itu, kecerahan sinar-X superflare tersebut lebih besar daripada kecerahan/luminositas gabungan dari kedua bintang di semua panjang gelombang dalam kondisi normal ", kata Goddard Adam Kowalski, yang memimpin sebuah studi rinci tentang peristiwa tersebut. "Flares sebesar ini dari katai merah adalah sangat langka".

Kecerahan bintang itu dalam cahaya tampak dan ultraviolet, yang juga teramati oleh observatorium berbasis darat, naik sebesar 10 dan 100 kali, berturut-turut.

Output X-ray awal flare ini, yang diukur dengan X-Ray Telescope Swift, menempatkannya sebagai aktivitas matahari/bintang yang paling intens yang pernah tercatat.

"Suar surya terbesar diklasifikasikan sebagai eXtraordinary (luar biasa), atau kelas X, berdasarkan emisi sinar-X mereka. Suar surya terbesar yang pernah kita lihat dari matahari terjadi pada bulan November 2003 dan diperingkatkan sebagai  X 45", jelas Drake.

Suar Surya X 45 dari matahari tahun 2003. 

"Suar yang dihasilkan DG CVn ini, jika dilihat dari planet dengan jarak yang sama dengan jarak Bumi dari matahari, akan menjadi sekitar 10.000 kali lebih besar dari suar matahari 2003, dengan peringkat sekitar X 100.000".

Tiga jam setelah ledakan awal, sistem bintang tersebut meledak dengan suar lain yang hampir sama kuat seperti yang pertama. Selama 11 hari ke depan, Swift mendeteksi serangkaian ledakan berturut-turut yang lebih lemah. Osten membandingkan serangkaian flare ini dengan gempa susulan setelah gempa utama.




Bagaimana bisa sebuah bintang hanya ukuran sepertiga dari matahari menghasilkan letusan raksasa seperti itu? Faktor kunci adalah cepatnya rotasi, yang menjadi faktor penting untuk memperkuat medan magnet. Bintang di DG CVn berputar sekitar 30 kali lebih cepat dari matahari kita. Matahari juga berotasi lebih cepat di masa mudanya dan mungkin telah menghasilkan superflares sendiri, tetapi, untungnya bagi kita, matahari tidak mampu melakukannya kembali.


Baca Juga:




Sumber: NASA
Baca selengkapnya

Selasa, 30 September 2014

Simulasi Baru Mengenai Tabrakan Bimasakti dan Andromeda

Telah diterima secara luas bahwa sekitar 4 miliar tahun lagi, galaksi Bima Sakti kita akan bertabrakan dengan galaksi terdekat, Andromeda - tapi apa yang terjadi saat tabrakan itu terjadi?



Dalam simulasi baru ilmuwan telah mengungkapkan proses rumit yang akan berlangsung, dengan penggabungan dua lubang hitam supermasif di pusat menjadi satu.

Dan galaksi baru yang akan terbentuk adalah sebuah super galaksi yang dijuluki 'Milkomeda'. Bagaimana dengan bumi? Ya, bumi diperkirakan akan terlempar ke ruang antar bintang.

Simulasi dibuat oleh sejumlah lembaga yang dipimpin oleh Pusat Internasional untuk Riset Radio Astronomy (Icrar) di Australia Barat.


Dalam simulasi tersebut dapat dilihat bagaimana kedua galaksi akan berinteraksi ketika mereka mendekati satu sama lain.

Pertama, dalam pertemuan tentatif, mereka akan 'menukik' melewati satu sama lain, mungkin mengganggu beberapa orbit bintang di lengan spiral masing-masing galaksi.

Kemudian, setelah terpisahkan, dua galaksi akan dipercepat terhadap satu sama lain lagi.

Karena Andromeda lebih besar dari Bima Sakti, dengan sekitar satu triliun bintang dibandingkan dengan sekitar 300 miliar, secara teknis Andromeda lah yang 'memangsa' galaksi kita.

Galaksi Bima Sakti juga diperkirakan akan 'memangsa' dua galaksi kerdil di dekatnya, Awan Magellanik Besar dan Kecil di masa depan yang lebih dekat.

Dan penelitian juga menyarankan galaksi terbesar ketiga di Grup Lokal kita, yang disebut Triangulum Galaxy atau M33, juga mungkin terlibat dalam tabrakan dari Bima Sakti dan Andromeda.



Dalam video tersebut, gas ditampilkan dengan warna biru dan bintang yang baru terbentuk dengan warna merah - yang berarti mereka terbentuk selama masa simulasi.

Saat kedua galaksi saling mendekat, gravitasi dari keduanya menyebabkan gas dan bintang-bintang terentangkan dalam bentuk lengan-lengan tidal.

Tabrakan awal menyebabkan sedikit 'kerusakan' pada galaksi; dan pada tabrakan kedua dan selanjutnya, interaksi gravitasi menciptakan perubahan besar, dengan awan-awan gas mengalami guncangan dan runtuh untuk menciptakan semburan pembentukan bintang-bintang.

Pada saat akhir, gas yang dikeluarkan dari galaksi, jatuh kembali dan mengendap ke cakram ringkas padat yang berputar cepat.

Meskipun simulasi hanya menampilkan bintang yang baru terbentuk, cakram bintang dan tonjolan (bulge) dari Bima Sakti dan Andromeda akan bergabung untuk membentuk galaksi elips besar, berbentuk seperti bola rugby."

Data untuk penelitian ini dikumpulkan dari Teleskop Anglo-Australia di New South Wales sebagai bagian dari Galaxy dan Mass Assembly (Gama) survei, yang melibatkan lebih dari 90 ilmuwan dan mengambil lebih dari tujuh tahun untuk menyelesaikannya.

Rangkaian ilustrasi foto diatas menunjukkan merger antara Bima Sakti dan Andromeda seperti yang terlihat dari Bumi. Jika Frame pertama adalah hari ini; maka frame terakhir adalah 7 miliar tahun kemudian.

Karena jarak yang besar antara bintang, maka hampir tidak mungkin dua ditemukan bintang yang bertabrakan.

Gambarannya, bintang terdekat dengan matahari kita adalah Proxima Centauri, 4,2 tahun cahaya. Jika matahari seukuran bola ping pong, maka Proxima Centauri akan seukuran kacang yang terletak sekitar 1,100 km jauhnya.

Dengan jarak rata-rata antara bintang sekitar 160 miliar km, maka hampir tidak mungkin dua bintang akan bertabrakan saat merger dua galaksi terjadi.

Meskipun demikian, lubang hitam supermasif di pusat tiap galaksi akan bergabung. Mereka akan bertemu di dekat pusat Milkomeda, mentransfer energi orbital tambahan untuk bintang-bintang selama jutaan tahun.

Beberapa simulasi memprediksi bahwa peristiwa ini akan membawa bumi ke dekat pusat galaksi gabungan sebelum terlempar keluar dari super-galaksi.

Simulasi dari NASA tahun 2012


Pada akhirnya, gravitasi diperkirakan akan menyebabkan semua galaksi yang terikat dalam group dan kluster di alam semesta untuk bergabung menjadi beberapa galaksi super raksasa seperti ini, meskipun akan butuh waktu miliaran tahun lagi sebelum ini terjadi.


Baca Juga:





Source: ABC news
Baca selengkapnya

Kamis, 25 September 2014

Apakah Lubang Hitam Tidak Pernah Ada?

Saat bintang besar yang massanya berkali-kali massa matahari berada diakhir hidupnya, Bintang tersebut akan runtuh ke dalam dirinya sendiri dan membentuk singularitas - menciptakan lubang hitam di mana gravitasi begitu kuat sehingga bahkan cahaya tida dapat melarikan diri darinya.



Setidaknya, itulah yang selama ini umum di teorikan.

Kini, seorang ilmuwan mengatakan bahwa tidak mungkin lubang hitam itu ada - dan dia bahkan memiliki bukti matematis untuk mendukung klaim-nya. Jika benar, penelitiannya bisa memaksa fisikawan lainnya untuk membuang teori mereka tentang bagaimana alam semesta berawal.

Penelitian ini dilakukan oleh Profesor Laura Mersini-Houghton dari University of North Carolina di Chapel Hill.

Ketika bintang mengalami keruntuhan, maka dia akan mengemisikan radiasi. Namun, lewat matematika, Profesor Mersini-Houghton menemukan bahwa saat bintang mengemisikan radiasi, maka bintang itu juga akan kehilangan massa.

Kehilangan massa akan memperkecil densitas bintang yang kolaps. Kalau itu terus terjadi hingga densitas sangat kecil, maka lubang hitam dan horison peristiwa tidak akan bisa terbentuk.
Sebelum lubang hitam dapat terbentuk, katanya, bintang sekarat akan membengkak dan meledak. Singularitas seperti yang diperkirakan sebelumnya tidak pernah terbentuk, dan begitu juga dengan cakrawala peristiwa. (batas lubang hitam di mana sesuatu bahkan cahaya tak dapat melarikan diri).

Selama proses keruntuhannya, bintang merilis jenis radiasi yang disebut radiasi Hawking (ditampilkan). Tapi Profesor Mersini-Houghton mengklaim proses ini berarti bintang kehilangan terlalu banyak massa dan tidak bisa membentuk lubang hitam. Dan ini juga berarti teori Big Bang, yang menyatakan alam semesta dimulai sebagai singularitas, mungkin tidak benar

"Sampai sekarang saya masih shock," kata Profesor Mersini-Houghton. "Kita telah mempelajari masalah ini selama lebih dari 50 tahun dan solusi ini memberi kita banyak hal untuk dipikirkan."

Bukti eksperimental mungkin suatu hari akan memberikan bukti fisik yang membenarkan atau  menyalahkan perhitungan ini, apakah ada atau tidak ada lubang hitam di alam semesta.

Tapi untuk saat ini, Mersini-Houghton mengatakan matematika adalah konklusif. Terlebih lagi, penelitian ini bahkan mempertanyakan kembali kebenaran teori Big Bang.

Kebanyakan fisikawan berpikir alam semesta berasal dari singularitas yang mulai mengembang dengan Big Bang sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu. Jika singularitas tidak mungkin ada, seperti yang diprediksi oleh Profesor Mersini-Houghton, maka teori tersebut juga perlu ditinjau kembali.

Salah satu alasan lubang hitam sangat aneh adalah bahwa mereka membuat dua teori dasar alam semesta menjadi bertentangan satu sama lain.

Yaitu, teori gravitasi Einstein yang memprediksi pembentukan lubang hitam. Tapi hukum dasar teori kuantum menyatakan bahwa tidak ada informasi dari alam semesta yang dapat dimusnahkan.

Upaya untuk menggabungkan dua teori ini terbukti bermasalah, dan menjadi sebuah paradoks yang dikenal sebagai paradoks informasi lubang hitam - bagaimana bisa materi menghilang secara permanen dalam lubang hitam seperti yang diprediksikan?

Teori baru Profesor Mersini-Houghton berhasil secara matematis menggabungkan dua teori dasar tersebut, tetapi dengan efek yang tak terduga bagi orang-orang yang mengharapkan lubang hitam ada.

"Fisikawan telah mencoba untuk menggabungkan dua teori ini - teori gravitasi Einstein dan mekanika kuantum - selama beberapa dekade, tetapi skenario kami ini membawa dua teori tersebut bersama-sama, ke dalam harmoni," kata Profesor Mersini-Houghton.


Baca Juga





Sumber:
Baca selengkapnya

Sabtu, 20 September 2014

Bintang di Dalam Bintang

Pada tahun 1975 astronom Dr Kip Thorne dan Dr Anna Żytkow meramalkan adanya sebuah bintang dalam sebuah bintang, yang kemudian dijuluki sebagai Obyek Thorne-Żytkow.

Mereka memprediksikan bahwa obyek ini akan terbentuk ketika bintang neutron bertabrakan dengan sebuah bintang super raksasa merah, dan ditelan atau masuk kedalam bintang raksasa tersebut.



Dan sekarang hampir 40 tahun kemudian, ditemukan bukti bahwa obyek tersebut memang eksis, membuat para astronom saat ini memiliki obyek antariksa baru yang menarik dan aneh untuk dipelajari.

Obyek Thorne-Żytkow (TŻOs) adalah hibrida dari bintang raksasa super merah dan bintang neutron yang, dari luar, menyerupai bintang raksasa super merah lainnya seperti Betelgeuse di Orion.

Namun Signature kimianya berbeda dari bintang TZO, karena aktivitas unik yang terjadi di dalamnya. Dan luar biasanya, sementara bintang biasa didukung oleh fusi nuklir di inti mereka, TŻOs sebenarnya didukung oleh bintang neutron yang diserap.


Penemuan salah satu obyek yang luar biasa ini sebenarnya telah diumumkan awal tahun ini, seperti yang telah AMJG postingkan bulan januari lalu, dan baru divalidasi bulan juni lalu.

Para astronom membuat penemuan mereka dengan teleskop Magellan Clay 6,5 meter di Las Campanas di Chili.  Mereka memeriksa spektrum cahaya yang dipancarkan dari bintang-bintan supergiants merah, yang mengatakan kepada mereka elemen apa saja yang hadir.

Ketika spektrum sebuah bintang tertentu yang bernama HV 2112 di Awan Magellan Kecil yang berjarak 200.000 tahun cahaya - pertama kali ditampilkan, pengamat cukup terkejut dengan beberapa fitur yang tidak biasa.

Pemimpin proyek Dr Emily Levesque dari University of Colorado Boulder dan rekan-rekannya melihat dari dekat garis halus dalam spektrum dan menemukan bahwa garis itu berisi kelebihan rubidium, lithium dan molibdenum.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa proses bintang yang normal dapat membuat masing-masing elemen tersebut, tetapi kelimpahan tinggi dari ketiga elemen ini pada suhu khas supergiants merah adalah signature yang unik dari TŻOs.

"Mempelajari obyek-obyek ini sangatlah menarik karena merupakan model yang sama sekali baru tentang bagaimana interior bintang dapat bekerja," kata Dr Levesque. "Dalam interior ini kami juga mengetahui cara baru menghasilkan unsur-unsur berat di alam semesta kita".

Dan Dr Żytkow, yang kini telah melihat prediksinya divalidasi, mengatakan: "Saya sangat senang bahwa konfirmasi pengamatan dari prediksi teoritis kami telah mulai muncul. Sejak Kip Thorne dan saya mengusulkan model bintang dengan inti bintang neutron, memang tidak ada yang dapat menyangkal apa yang kami teorikan."


Baca Juga:






Source: Space.com
Baca selengkapnya

Selasa, 19 Agustus 2014

Observatorium Paranal di Chile

Observatorium Paranal adalah observatorium astronomi yang terletak di pegunungan Cerro Paranal di gurun Atacama Chile utara, pada ketinggian 2.635 meter, sekitar 120 kilometer selatan Antofagasta dan 80 km sebelah utara dari Taltal. Jauh dari lampu-lampu kota, tinggi diatas permukaan laut, dengan lebih dari 350 hari tak berawan dalam setahun, gurun Atacama adalah lokasi yang ideal untuk astronomi berbasis darat.



Very Large Telescope (VLT) di Paranal Cerro adalah situs utama Southern Observatory Eropa untuk pengamatan dalam cahaya tampak dan inframerah, dan pada satu waktu, pernah menjadi salah satu dari array optik yang paling kuat di dunia. Observatorium terobosan ini terdiri dari empat teleskop 8,2m yang terpisah dan koleksi besar instrumen. Selain itu, empat teleskop utama dapat menggabungkan cahaya mereka untuk beroperasi sebagai satu perangkat. Tanpa diketahui kebanyakan orang kecuali para astronom dan fotografer, observatorium memiliki ketenaran sesaat pada tahun 2008 ketika muncul dalam film James Bond, Quantum of Solace.

Selain teleskop, ada bangunan kontrol dan pemeliharaan fasilitas serta hotel yang menyediakan akomodasi untuk staf dan pengunjung. Ini terletak 200 meter lebih rendah dan 3 km dari teleskop, dan tertanam setengah ke gunung dengan beton berwarna untuk berbaur dengan lanskap.

Salah satu hal terbaik tentang Paranal Observatory yaitu menawarkan wisata gratis untuk pengunjung.











Hotel yang sebagian berada di bawah tanah



Baca Juga:







Source
Baca selengkapnya

Kamis, 07 Agustus 2014

Misteri Gelembung Sinar Gamma dari Galaksi Kita

Galaksi Bima Sakti meniupkan gelembung besar misterius yang membentang sepanjang puluhan ribu tahun cahaya.



Gelembung 'Fermi' ini, yang sebagian besar terdiri dari sinar gamma, ditemukan empat tahun lalu oleh fisikawan Harvard, Douglas Finkbeiner - dan para ilmuwan telah mencoba untuk menjelaskannya sejak saat itu.

Sekarang sekelompok peneliti AS telah menggunakan data dari Fermi Gamma-ray Telescope untuk menciptakan sebuah 'potret' dua gelembung yang membentang 'ke atas' dan 'ke bawah' galaksi kita.

Dmitry Malyshev, dari Kavli Institute for Particle Astrophysics and Cosmology di Stanford, menemukan bahwa gelembung memiliki outline yang sangat jelas dan fix pada tiap kutub Bima Sakti.

Gelembung itu sendiri, katanya, bersinar dalam sinar gamma hampir seragam dan muncul seperti dua lampu pijar memancar hampir setinggi 30.000-tahun cahaya dari pusat galaksi.

Namun menurut teori astrofisika saat ini, sinar gamma ini seharusnya tidak ada, dan para ilmuwan belum mampu menemukan sumbernya.

Ada sejumlah teori. Misalnya, sinar gamma tersebut bisa saja tercipta oleh jet besar materi yang dipercepat dan meledak keluar dari lubang hitam supermasif di pusat galaksi kita.

Gelembung yang 30.000 tahun cahaya. Tepi gelembung pertama kali terlihat di X-ray (biru). Sinar gamma dipetakan oleh Fermi (ditunjukkan dalam magenta) membentang lebih jauh dari bidang galaksi



Atau mereka bisa saja dibentuk oleh populasi bintang-bintang raksasa yang lahir dari gas yang berlimpah di sekitar lubang hitam, semua meledak sebagai supernova di sekitar waktu yang sama.

Teori lainnya mengatakan bahwa mereka adalah hasil dari tabrakan antara partikel materi gelap yang mengakibatkan kehancuran mereka, memancarkan partikel bermuatan dalam prosesnya.

"Ada beberapa model yang menjelaskan mereka, tapi tidak ada model yang sempurna," kata Dmitry Malyshev, seorang peneliti postdoctoral di Institut Kavli. "Gelembung-gelembung ini masih misterius."

Dari sudut pandang teleskop berbasis Bumi, semua sinar gamma kecuali yang berenergi tinggi benar-benar disaring oleh atmosfer kita.

Baru pada era observatorium sinar gamma seperti Fermi mengorbit, para ilmuwan menemukan betapa umumnya sinar gamma ekstra-terestrial di alam semesta.

Pulsar, lubang hitam supermasif di galaksi lain dan supernova adalah sumber-sumber titik sinar gamma, seperti bintang-bintang jauh merupakan sumber titik cahaya tampak, dan semua sinar gamma ini dapat dilihat dari data Fermi.

Sulit untuk menghapus emisi difus galaktik, yaitu kabut sinar gamma yang mengisi galaksi yang berasal dari sinar kosmik yang berinteraksi dengan partikel antar bintang.

"Pengurangan semua kontribusi tersebut tidak begitu mengurangi gelembung," kata KIPAC peneliti postdoctoral Anna Franckowiak. 'Gelembung memang ada dan sifat mereka yang kuat. "

Dengan kata lain, gelembung tidak hilang ketika sumber sinar gamma lainnya dikeluarkan dari data Fermi - pada kenyataannya, mereka menonjol cukup jelas.

Para peneliti berencana untuk terus mengumpulkan data tentang gelembung, dan terus mencoba untuk menjelaskan bagaimana mereka ada di sana.

Struktur gamma-ray raksasa ditemukan dari pengolahan Fermi all-sky data pada energi dari 1 - 10 milyar elektron volt, yang ditampilkan di sini. Fitur berbentuk dumbel (tengah) muncul dari inti galaksi dan meluas 50 derajat utara dan selatan dari bidang Bima Sakti, di langit dari konstelasi Virgo


Baca Juga:





Source
Baca selengkapnya

Minggu, 20 Juli 2014

Pijaran Udara atau Airglow

Langit malam kita sebenarnya tidak benar-benar gelap. Mereka bercahaya lembut dan indah. Cahaya di udara atau Pijaran udara (airglow) ini merupakan emisi cahaya yang sangat lemah oleh atmosfer bumi. Pertama kali terlihat pada tahun 1868 oleh Anders Ångström.




Kemiripan airglow dengan aurora adalah kebetulan. Keduanya tercipta di sekitar ketinggian yang sama sekitar 100 km dan melibatkan eksitasi atom dan molekul oksigen. Tapi mekanisme yang berbeda menggoda mereka untuk bersinar.

Aurora mendapatkan cahaya mereka dari elektron dan proton berkecepatan tinggi dalam angin matahari yang membombardir atom dan molekul oksigen dan nitrogen. Setelah elektron yang tereksitasi dalam atom-atom kembali ke keadaan awal mereka, mereka memancarkan foton cahaya hijau dan merah yang membuat tirai warna-warni cahaya di utara dan selatan bumi.



Sedangkan pijaran udara atau Airglow ini muncul dari jenis eksitasi yang berbeda. Sinar ultraviolet dari matahari siang hari mengionisasi atau menendang elektron dari atom dan molekul oksigen dan nitrogen; pada malam hari elektron bergabung kembali dengan atom tuan rumah mereka, melepaskan energi sebagai cahaya yang berwarna berbeda-beda termasuk hijau, merah, kuning dan biru. Emisi paling terang, yang bertanggung jawab untuk menciptakan garis-garis hijau yang terlihat dari tanah dan orbit, berasal dari atom oksigen tereksitasi dan memancarkan cahaya pada panjang gelombang 588 nanometer, yaitu warna di bagian tengah antara spektrum kuning-hijau cahaya tampak.

Cahaya hijau dari atom oksigen tereksitasi mendominasi cahaya airglow. Atom-atom ini berada di ketinggian sekitar 100 km di termosfer. Cahaya merah yang lemah berasal dari atom oksigen yang lebih diatas. Atom natrium, radikal hidroksil (OH) dan molekul oksigen menambahkan pelengkap mereka sendiri ke cahaya airglow.

Oksigen yang tereksitasi di ketinggian yang lebih tinggi menciptakan lapisan airglow berwarna merah samar. Sodium tereksitasi membentuk lapisan kuning di 92 km. Airglow paling terang terang terjadi pada siang hari tapi tak terlihat karena tetap kalah terang dengan sinar matahari

Warna lainnya dari airglow
* Merah - Dari Atom oksigen tereksitasi yang berada jauh lebih tinggi di 150-300 km memancarkan cahaya pada keadaan energi yang berbeda. Eksitasi radikal hidroksil -OH mengeluarkan cahaya merah tua dalam proses yang disebut chemoluminescence ketika mereka bereaksi dengan oksigen dan nitrogen. Reaksi chemoluminescent lain terjadi ketika molekul oksigen dan nitrogen yang pecah terpisah oleh sinar ultraviolet yang tinggi di atmosfer dan bergabung kembali untuk membentuk oksida nitrat (NO).

* Kuning - Dari atom natrium yang berada di ketinggian sekitar 92 km tinggi. Sodium berasal dari pecahan dan penguapan mineral dalam meteoroid saat mereka terbakar di atmosfer.

* Blue - emisi lemah dari molekul oksigen tereksitasi diketinggian sekitar 95 km tinggi.

Pijaran udara ini menjadi salah satu faktor penyebab keterbatasan sensitivitas teleskop berbasis bumi. Bahkan pada observatorium bumi yang terbaik sekalipun, pijaran udara ini juga membatasi sensitivitas teleskop pada gelombang cahaya tampak. Karena alasan ini, teleskop ruang angkasa seperti teleskop ruang angkasa Hubble dapat melihat lebih banyak objek-obyek samar dibandingkan dengan teleskop bumi pada gelombang cahaya tampak.

Pijaran udara yang terlihat dari bumi

Pijaran udara di malam hari mungkin cukup terang untuk dilihat oleh pengamat, dan umumnya berwarna kehijauan. Meskipun emisi pijaran udara sangat seragam di atmosfer, bagi pengamat di lapangan ia akan tampak paling terang sekitar 10 derajat di atas cakrawala, karena semakin rendah seseorang melihat semakin dalam atmosfer yang dapat terlihat. Namun pada tingkat yang sangat rendah, hilangnya atmosfer mengurangi tingkat keterangan dari pijaran udara tersebut.

 Bimasakti dan Airglow (warna hijau)

Tingkat keterangan langit biasanya disebut dalam satuan besar astronomis per detik busur persegi dari langit.

Setelah badai raksasa di atas Bangladesh pada akhir April, lingkaran ombak raksasa dari airglow udara bercahaya muncul di atas Tibet, China, seperti yang digambarkan di atas. Pola yang tidak biasa tersebut dibuat oleh gelombang gravitasi atmosfer, gelombang dari tekanan udara yang berselang-seling yang dapat tumbuh di ketinggian saat udara menipis, dalam hal ini di ketinggian sekitar 90 kilometer. Tidak seperti aurora yang disebabkan oleh tabrakan partikel bermuatan energik dan terlihat di lintang tinggi, airglow disebabkan karena chemiluminescence, produksi cahaya dalam reaksi kimia. Lebih sering terlihat di dekat cakrawala, airglow menjaga langit malam dari kondisi yang menjadi benar-benar gelap.




Baca Juga:







Baca selengkapnya